Minggu, 30 Maret 2008

Cantik itu...? seperti apa?

Apa standarisasi bagi seorang perempuan untuk dinilai cantik?
Pertanyaan ini terus bergulir sejak jaman nenek moyang.
Seperti apa rupa Hawa sampe Adam jatuh hati? Apakah karena Hawa cantik layak Miss Universe atau karena dia satu2nya perempuan yang hidup di jaman itu hingga Adam mau gak mau harus suka sama Hawa biar bisa beranakpinak?
Seperti apa rupa Maria Magdalena, hingga namanya disebut dalam Al Kitab dan memiliki tempat tersendiri dalam sejarah nasrani?
Seperti apa Siti Khodijah hingga Muhammad S.A.W rela memberikan sebesar-besar cintanya pada Khodijah bahkan ketika perempuan itu sudah tiada?

Konsep cantik sudah otomatis menjadi momok dalam sosialisasi manusia dari masa ke masa. Sejak jaman pra sejarah hingga peradaban tingkat tinggi, manusia dihadapkan pada paradigma “cantik atau tidak cantik”. Cantik seolah menjadi sejarah yang terus bergulir dan tidak pernah putus. Dari tahun ke tahun orang akan dihadapkan dengan persoalan ‘cantik’. Lalu seperti apa cantik itu?

Cleopatra, seorang ratu segala ratu, mati2an berusaha menjadi cantik hingga mandi susu dan madu. Cleopatra terkenal karena ‘cantik’ bukan karena bagaimana dia memimpin.
Maria Antoinete, seorang ratu Perancis. Menghabiskan banyak emas untuk menunjang kecantikan dan keglamourannya. Dia terkenal bukan karena kearifan sebagai pemimpin tapi karena hutang yang menumpuk. Apa dia mati dalam keadaan cantik?
Marlyn Monroe. Cantik dan seksi. Seorang yang legendaris bukan karena kualitas vokal, tapi karena keseksikan dan kecantikan yang menjadi ikon beberapa majalah khusus pria. Apa dia merasa bahagia dengan kehidupannya?

Kini, bahkan banyak kontes kecantikan bagi perempuan. Miss Universe, Miss World, Miss Indonesia, Putri Indonesia, Look Model, etc. Apa cantik itu harus seperti Miss Universe dan sebangsanya? Lalu bagaimana dengan seorang perempuan yang terlahir cacat dengan muka yang seadanya? Apakah dia akan dinilai ‘tidak cantik’?
Suka atau tidak, konsep cantik seringkali melahirkan ketidakadilan tersendiri bagi seorang perempuan. Bagaimana dia terlahir dengan kondisi yang memang demikian adanya, and then dengan seenaknya orang lain menjudge dia ‘tidak cantik’.

Flo, teman saya, berpendapat “laki-laki itu, secara Islam, melihat cewek dari 4 hal. Kecantikan, keluarga, kekayaan, dan agama. Dari keempat-empatnya, cuma Agama yang bisa bertahan lama. Cantik bisa ilang seiring waktu, kalo udah tua, masak gak mau peyot? Kalau dia gak punya dana lagi buat bermake-up, masak dia gak bakal jelek juga? Kalau keluarga…wah, gak ngerti juga. Tapi kalau kaya, jelas, duit bisa abis! Tapi kalau agama, gua yakin, sampe matipun bakal terus kebawa. Agama itu akhlak. Jasad kita aja bakal berakhir diperut cacing, dan cuma akhlak kita yang bakal dinilai. Lo harus cari cowok yang bisa membimbing lo masuk surga, bukan cowok yang bisanya cuma ngatur lo harus kurus, putih, rambut lurus!”
Dewi, teman saya juga, berusul “cantik itu relatif, tergantung yang ngeliat!”

, “cantik masing-masing orang, nggak bisa dibandingin, kan tiap orang beda. Lagian hidup itu bukan tentang siapa lebih cantik dari siapa, hidup itu bukan kontes kecantikan, hidup tu tentang gimana kita bertahan menghadapi masalah-masalah, siapapun bisa keluar sebagai pemenang.”

Rizna, tante kecil saya, bilang “cantik itu asal lo ngerasa cukup dengan apa yang lo punya. Cantik fisik itu gampang, bisa dipermak. Banyak fasilitas untuk jadi cantik, tapi kecantikan hati itu susah dibentuk, mo disalonin dimana?!”

Mafud, teman seperjuangan waktu SMA, ngomong “cantik tu ketika kamu merasa diri kamu indah. Itu dengan sendirinya orang lain juga bakal nilai kamu cantik!”

Kampret, temen sms saya, ikutan nambahin “cantik mah yang apa adanya aja deh!”
Rata2 cowok emang ngomong kayak gini, tapi giliran dapet yang jelek, tetep aja protes! Bukan menerima ‘apa adanya’ kali Pret…tapi menerima ‘adanya apa’! hwakakakaka…adanya kayak gini, lo mau kagak?

Mama saya bilang “cantik itu smart, cerdas, bisa membawa diri, nyenengin hati, selalu senyum, aura bahagianya keluar. Cantik itu gak harus kamu jadi kurus, rambut lurus ato ikal diwarna, kulit diputihin, pake aksesoris keluaran brand2 ternama, pake baju yang lagi trend. Itu mah cantik keluaran pabrik! Semua orang juga bisa! Segala sesuatu yang polesan tu gak abadi. Lagian fisik itu ibarat rumah, otak itu lampunya. Rumah mo bagus kayak gimana juga bakal gak keliatan kalo lampunya mati. Kamu mo cantik kayak gimana juga gak bakal kepake kalo kamu goblok!”

Itu pendapat orang2 disekitar saya soal ‘cantik’.

Sekarang, iklan2 di tivi, rame2 masarin produk2 yang bisa bikin ‘cantik’. Cewek bisa cepet nikah karena pake Pond`s. Cewek bisa PeDe gara2 jerawatnya ilang karena make Acnes. Bahkan ada cewek yang ketemu jodohnya gara2 make Rexona! Betapa hidup kita seolah digantungin pada produk2 itu. Kalo gak kuat mental, kita bisa jadi sasaran konsumerisme perusahaan2 kosmetik!

Pada akhirnya saya setuju pada konsep, cantik itu dari hati. Gak perlu ngikutin trend, gak perlu jadi pasaran, gak perlu ke salon, gak perlu biar keliatan menarik harus make ini itu, gak perlu make over. Setiap kita punya kecantikan masing-masing yang unik, berbeda satu dengan yang lain. Juga, apa yang ada di diri kita adalah seindah-indahnya dan yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang kita punya. Gampang kan?

Agnes Monica, Luna Maya, Catherine Wilson, tipe2 cewek cantik dan modis. Tapi kayaknya kisah cinta mereka blangsak2 aja tuh! So, cantik itu nggak menjamin kita happy dunia akhirat koq…hehehehe….
Cantik masing-masing orang, nggak bisa dibandingin, kan tiap orang beda. Lagian hidup itu bukan tentang siapa lebih cantik dari siapa, hidup itu bukan kontes kecantikan, hidup tu tentang gimana kita bertahan menghadapi masalah-masalah, siapapun bisa keluar sebagai pemenang.

Tidak ada komentar: