Minggu, 22 Juni 2008

Si Legam LULUS!!

Bulan2 ini lagi ribet2nya masalah sekolah. Papa saya, pagi2 bgt udah bingung ngurusin mau kemana adik saya mau ngelanjutin sekolah???

Baru beberapa waktu kemaren adek saya si Legam, lulus SMP.

Peristiwa ini mengingatkan saya bahwa setiap orang pada akhirnya toh bakalan LULUS juga. Dalam hal apapun. Semua manusia akan berkembang dari embrio sampai tua, sampai akhirnya tewas dengan sukses, kalau beruntung dia akan mati meninggalkan kenangan bahkan menjadi sejarah abadi umat manusia yang lain, kalo nggak ya……..terima nasib aja.

perkembangan manusia yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan nasib kita pada manusia lain, lebih2 membandingkan. Semua jiwa akan memiliki masalah yang berbeda-beda sebagai media pendewasaan diri. Semua orang bisa jadi pemenang atau pihak yang kalah dalam hidupnya, tergantung bagaimana si orang itu menghadapi bersikap dalam setiap masalahnya.

Saya pernah punya cerita:

Waktu itu, saya lagi sarapan didepan kampus sastra, saya sarapan sama mahasiswa2 yang lain. Tiba2 ada mobil Nissan Xtrail melintas. Yang naik mobil nurunin kaca mobil, terus nyapa kenalannya yang lagi makan bareng2 sama saya. Tiba2 seseorang didepan saya nyeletuk “pake fasilitas orangtua aja belagu!! Saya dong, dari kecil hidup susah, jauh kalau dibandingin sama yang kayak gitu…tapi saya jauh lebih merasakan esensi hidup! Nggak cuma hidup enak2 doang!”

Weeeewwww!!!

Nyebut mas…

Sabar…

Lagian sapa juga yang mau bandingin kamu sama dia…hehehe

Nasib manusia itu heterogen, kalau dari kecil kamu udah hidup susah, tau esensi hidup, ngerti makna hidup, ya bagus dong! Kamu jadi punya banyak pengalaman.

Nah, si Nissan Xtrail Driver itu juga beruntung dong, punya orangtua mampu yang bisa ngasih dia mobil…(lagian belum tentu juga itu mobil orangtuanya, kali2 aja minjem! Hehe) udah gitu, buat semua orangtua, bisa memfasilitasi anaknya dengan mobil itu kebanggan tersendiri lho!

Buat saya, si Nissan Xtrail Driver itu pun nggak belagu, dia cuma mau nyapa temen2nya doang, daripada dianggap sombong! Ya tho?

Positif thinking dikitlah…

Hehehe…

Pada akhirnya kita emang akan kembali ke titik nol. Bahwa manusia itu diciptakan lengkap dengan nasib dan rejekinya, kita nggak bisa memaksa orang lain untuk jadi sama dengan kita. Belum tentu kalau si Pengkritik itu dikasih kaya dia bisa jadi manusia yang lebih baik. Belum tentu juga kalau si Nissan Xtrail Driver dikasih hidup susah dia bakal gagal. Semuanya sudah diatur men…

Bolehlah kita bersikap idealis, tapi bukan berarti harus menjudge orang seenaknya.

Apalagi menghakimi orang dari tampilan luar, itu judge minded namanya. Menghakimi orang, cuma dari apa yang kita pikirkan. Bo, kita ini cuma pengamat dan penikmat sekitar, bukan hakim.

Sabtu, 21 Juni 2008

speak your feel

Udah lama saya pengen nulis ini. Ada hal yang menggelitik saya sampe saya ingin ikut berkomentar. November tahun lalu saya kenalan sama cowok, dia ngasih saya alamat friendster-nya gitu…okedeh saya buka! Cowok itu baru punya dua temen di space message-nya. Saya iseng2 buka punya dua temennya itu. Yang satu di profile-nya di privat, weeeewwww….males! Cuma ada foto doang….yeah...tapi luamayan, cakep euy!

Yang kedua nggak ada foto, tapi profile-nya free to read. Saya bacalah semua yang ada didepan mata saya itu.

Soal siapa cowok ini, nggak penting!

Yang saya cermati adalah, beberapa pesan yang masuk di FS cowok itu, menurut saya, besifat sangat pribadi. Dia saling berkirim2 perasaan sama ceweknya lewat fasilitas internet. Oke, ini hak dia. Tapi nggak tau kenapa ya, buat saya ini terlalu absurd. Mungkin karena saya bukan tipe orang yang suka memblow-up perasaan dengan bebas, saya jadi heran ngeliat yang model2 kayak gitu.

Lebih daripada itu, yang mau saya cermati lagi, adalah bahwa ternyata internet kini makin tak terbatas, dulu waktu jaman email, yang ditanya hanya seputar nama, password,dan pertanyaan kunci kalo2 lupa password. Tapi sekarang, di zaman friendster goblok ini, yang ditanya sudah semakin mendetail. Nama, lokasi, tanggal lahir, sampe affiliations, interest, foto, ujung2nya ya sama kayak kasus tadi, bebas memblow-up perasaan.

Inikah yang harus kita bayar pada kemajuan teknologi? kita menjadi manusia public yang sudah tak ada lagi ruang pribadinya?

Mengerikan…

Yang saya tahu, hidup ini jauh lebih berwarna, jauh lebih mengasyikan ketimbang menontonin layar computer, saling bertukar sapa ato bahkan cari jodoh. You can see everything with internet, but you can`t feel everything. Jauh diluar layar persegi 15 inci itu, masih terhampar dunia yang keren buat dirasain secara langsung.

Yang saya tahu juga, hidup bersosialisasi itu akan lebih baik bila saling menyapa satu sama ain secara langsung, karena toh kita dilahirkan bukan karena ayah kita meng-add ibu di friendlist nya, tapi karena pertemuan sperma dan ovum.

Minggu, 30 Maret 2008

Dunia saya...

Dunia yang saya tinggali sekarang adalah dunia dengan trend baju baru yang dirasa lebih penting dari kasus pencurian gede2an kayu-kayu di hutan, film terbaru dianggap bentuk kemajuan daripada keberhasilan seorang anak SMP yang menang olimpiade fisika, dan juga model rambut baru terasa lebih important dari ratusan nasib anak2 yang nggak bisa sekolah karena gedung sekolahnya rubuh.
Dunia yang saya tinggali adalah dunia yang menganut prinsip “Judge a book by it cover”…
Dunia yang saya tinggali adalah dunia yang rakyatnya miskin tapi musingin masalah-masalah perkembangan trend handphone, merk2 mobil baru, sama gimana caranya kredit motor baru padahal yang dulu juga belum lunas…
Dunia yang saya tinggali adalah dunia dengan sejuta karakter manusia yang tampak seragam…
Dunia yang saya tinggali adalah dunia dimana penampilan menjadi prioritas utama dalam bersosialisasi…
Dunia yang saya tinggali adalah dunia dimana cinta tergantung bentuk tubuh dan anatomi muka…
Dunia yang saya tinggali adalah dunia seperti ini…
Selamat menikmati…

Cantik itu...? seperti apa?

Apa standarisasi bagi seorang perempuan untuk dinilai cantik?
Pertanyaan ini terus bergulir sejak jaman nenek moyang.
Seperti apa rupa Hawa sampe Adam jatuh hati? Apakah karena Hawa cantik layak Miss Universe atau karena dia satu2nya perempuan yang hidup di jaman itu hingga Adam mau gak mau harus suka sama Hawa biar bisa beranakpinak?
Seperti apa rupa Maria Magdalena, hingga namanya disebut dalam Al Kitab dan memiliki tempat tersendiri dalam sejarah nasrani?
Seperti apa Siti Khodijah hingga Muhammad S.A.W rela memberikan sebesar-besar cintanya pada Khodijah bahkan ketika perempuan itu sudah tiada?

Konsep cantik sudah otomatis menjadi momok dalam sosialisasi manusia dari masa ke masa. Sejak jaman pra sejarah hingga peradaban tingkat tinggi, manusia dihadapkan pada paradigma “cantik atau tidak cantik”. Cantik seolah menjadi sejarah yang terus bergulir dan tidak pernah putus. Dari tahun ke tahun orang akan dihadapkan dengan persoalan ‘cantik’. Lalu seperti apa cantik itu?

Cleopatra, seorang ratu segala ratu, mati2an berusaha menjadi cantik hingga mandi susu dan madu. Cleopatra terkenal karena ‘cantik’ bukan karena bagaimana dia memimpin.
Maria Antoinete, seorang ratu Perancis. Menghabiskan banyak emas untuk menunjang kecantikan dan keglamourannya. Dia terkenal bukan karena kearifan sebagai pemimpin tapi karena hutang yang menumpuk. Apa dia mati dalam keadaan cantik?
Marlyn Monroe. Cantik dan seksi. Seorang yang legendaris bukan karena kualitas vokal, tapi karena keseksikan dan kecantikan yang menjadi ikon beberapa majalah khusus pria. Apa dia merasa bahagia dengan kehidupannya?

Kini, bahkan banyak kontes kecantikan bagi perempuan. Miss Universe, Miss World, Miss Indonesia, Putri Indonesia, Look Model, etc. Apa cantik itu harus seperti Miss Universe dan sebangsanya? Lalu bagaimana dengan seorang perempuan yang terlahir cacat dengan muka yang seadanya? Apakah dia akan dinilai ‘tidak cantik’?
Suka atau tidak, konsep cantik seringkali melahirkan ketidakadilan tersendiri bagi seorang perempuan. Bagaimana dia terlahir dengan kondisi yang memang demikian adanya, and then dengan seenaknya orang lain menjudge dia ‘tidak cantik’.

Flo, teman saya, berpendapat “laki-laki itu, secara Islam, melihat cewek dari 4 hal. Kecantikan, keluarga, kekayaan, dan agama. Dari keempat-empatnya, cuma Agama yang bisa bertahan lama. Cantik bisa ilang seiring waktu, kalo udah tua, masak gak mau peyot? Kalau dia gak punya dana lagi buat bermake-up, masak dia gak bakal jelek juga? Kalau keluarga…wah, gak ngerti juga. Tapi kalau kaya, jelas, duit bisa abis! Tapi kalau agama, gua yakin, sampe matipun bakal terus kebawa. Agama itu akhlak. Jasad kita aja bakal berakhir diperut cacing, dan cuma akhlak kita yang bakal dinilai. Lo harus cari cowok yang bisa membimbing lo masuk surga, bukan cowok yang bisanya cuma ngatur lo harus kurus, putih, rambut lurus!”
Dewi, teman saya juga, berusul “cantik itu relatif, tergantung yang ngeliat!”

, “cantik masing-masing orang, nggak bisa dibandingin, kan tiap orang beda. Lagian hidup itu bukan tentang siapa lebih cantik dari siapa, hidup itu bukan kontes kecantikan, hidup tu tentang gimana kita bertahan menghadapi masalah-masalah, siapapun bisa keluar sebagai pemenang.”

Rizna, tante kecil saya, bilang “cantik itu asal lo ngerasa cukup dengan apa yang lo punya. Cantik fisik itu gampang, bisa dipermak. Banyak fasilitas untuk jadi cantik, tapi kecantikan hati itu susah dibentuk, mo disalonin dimana?!”

Mafud, teman seperjuangan waktu SMA, ngomong “cantik tu ketika kamu merasa diri kamu indah. Itu dengan sendirinya orang lain juga bakal nilai kamu cantik!”

Kampret, temen sms saya, ikutan nambahin “cantik mah yang apa adanya aja deh!”
Rata2 cowok emang ngomong kayak gini, tapi giliran dapet yang jelek, tetep aja protes! Bukan menerima ‘apa adanya’ kali Pret…tapi menerima ‘adanya apa’! hwakakakaka…adanya kayak gini, lo mau kagak?

Mama saya bilang “cantik itu smart, cerdas, bisa membawa diri, nyenengin hati, selalu senyum, aura bahagianya keluar. Cantik itu gak harus kamu jadi kurus, rambut lurus ato ikal diwarna, kulit diputihin, pake aksesoris keluaran brand2 ternama, pake baju yang lagi trend. Itu mah cantik keluaran pabrik! Semua orang juga bisa! Segala sesuatu yang polesan tu gak abadi. Lagian fisik itu ibarat rumah, otak itu lampunya. Rumah mo bagus kayak gimana juga bakal gak keliatan kalo lampunya mati. Kamu mo cantik kayak gimana juga gak bakal kepake kalo kamu goblok!”

Itu pendapat orang2 disekitar saya soal ‘cantik’.

Sekarang, iklan2 di tivi, rame2 masarin produk2 yang bisa bikin ‘cantik’. Cewek bisa cepet nikah karena pake Pond`s. Cewek bisa PeDe gara2 jerawatnya ilang karena make Acnes. Bahkan ada cewek yang ketemu jodohnya gara2 make Rexona! Betapa hidup kita seolah digantungin pada produk2 itu. Kalo gak kuat mental, kita bisa jadi sasaran konsumerisme perusahaan2 kosmetik!

Pada akhirnya saya setuju pada konsep, cantik itu dari hati. Gak perlu ngikutin trend, gak perlu jadi pasaran, gak perlu ke salon, gak perlu biar keliatan menarik harus make ini itu, gak perlu make over. Setiap kita punya kecantikan masing-masing yang unik, berbeda satu dengan yang lain. Juga, apa yang ada di diri kita adalah seindah-indahnya dan yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang kita punya. Gampang kan?

Agnes Monica, Luna Maya, Catherine Wilson, tipe2 cewek cantik dan modis. Tapi kayaknya kisah cinta mereka blangsak2 aja tuh! So, cantik itu nggak menjamin kita happy dunia akhirat koq…hehehehe….
Cantik masing-masing orang, nggak bisa dibandingin, kan tiap orang beda. Lagian hidup itu bukan tentang siapa lebih cantik dari siapa, hidup itu bukan kontes kecantikan, hidup tu tentang gimana kita bertahan menghadapi masalah-masalah, siapapun bisa keluar sebagai pemenang.

Senin, 03 Maret 2008

To be different…

Pernah nggak dalam suatu waktu kalian merasa terasing dari lingkungan??? Saya pernah. Dan saya yakin semua orang juga pernah. Itu merupakan proses hidup yang membuat kita belajar bahwa antara satu individu dengan individu lain itu BERBEDA. Masing2 dari kita punya keinginan untuk menunjukan eksistensi diri yang kadang membuat kita harus berani beda dengan orang kebanyakan.
Tapi, nggak semua orang bisa dengan lapang dada menerima perbedaan ini. Rata2 setiap individu punya sebuah komunitas, kelompok, geng, etc. Jika ada satu dari mereka yang nekat menjadi beda, biasanya langsung dikucilin, dianggap kuper, dinilai aneh.
Menurut saya ini fenomena umum yang primitif. Semua orang bebas berekspresi tanpa harus tergantung pada orang lain. Semua orang bebas menjadi diri sendiri demi sebuah identitas. Semua orang bebas untuk tidak menjadi sama dengan yang lain.
Masyarakat kita ini seperti kurang bisa menghargai perbedaan pendapat. Padahal banyak otak, banyak hati, pasti banyak pula pemikiran dan perasaan. Kita nggak bisa menghomogenkan semua itu. Karena pada dasarnya kita tidak bisa mengatur orang lain, kita hanya bisa mengatur diri sendiri.
Karena itu, bagi kalian yang punya nyali untuk menjadi beda, jangan takut orang lain mo bilang apa! Komen2 itu wajar karena kita hidup secara sosial. Yang penting maju terus… jangan terus2an harus menjadi A hanya biar kamu bisa diterima orang lain. Just be your self men! Jangan kalau orang lain bilang kamu harus begini-begitu, lalu kamu turuti semuanya. Itu sama dengan membunuh diri sendiri. Kita semua punya kemampuan masing2, dan harus berani kita tunjukan sendiri.