Kadang saya merasa terganggu dengan diri saya sendiri dan orang2 kalo lagi kumat sifat: prasangka-nya.
di kelas pagi tadi saya belajar kalo bukan cuma saya yg merasa seperti itu, i mean, nggak semua orang, tapi ada-lah beberapa orang yang bahkan menganggap itu sebagai budaya. Ya, budaya prasangka.
Bagus sih kalo prasangka-nya baik, tapi seringnya enggak euy!
Temen2 saya sering bilang "semua orang pasti punya alasan, apapun yg dia kerjakan, bagaimana dia, apapun yg dia lakukan, pasti ada alasannya."
the point is, bisakah kita menghargai alasannya itu?
bisa nggak sih kita melihat apa yg tak tampak, dan mulai belajar memaklumi itu.
saya belum bisa...
sering saya berusaha melihat apa yg dilakukan oranglain sebagai sesuatu yg wajar. Manusiawi. Pada dasarnya manusia sanggup berbuat apa saja. Mungkin kalo saya ada diposisi dia, saya juga akan melakukan hal yang sama.
tapi seringnya saya melihat tiap ada orang yang agak berbeda sedikit, atau melakukan sesuatu yg menurut pandangan saya nggak wajar, maka, saya ngomongin dia dibalik layar, ngetawain bersama temen2, dan kalo pas papasan sama orang itu, saya akan segera menepuk temen saya, berpandangan penuh arti, kemudian senyum penuh kemaksiatan.
saya mengalami itu tadi.
ketika saya melihat ada seseorang yang datang mau beli sesuatu di sebuah toko, nah ditoko itu juga ada dua cewek yang lagi belanja, tiba2 salah satu dari mereka menepuk pundak temannya, memberi isyarat penuh arti, lalu mereka berdua menertawakan si-orang-yang-baru-datang tadi. saya lihat mereka bertiga emang sudah saling kenal sebelumnya. karena si-orang-yang-baru-datang itu sempat ber-hai-hai dengan mereka.
oke, saya nggak suka melihat peristiwa tersebut.
i mean, come on. kita bukan anak kecil lagi yang belum bisa melihat apapun yg terjadi disekitar kita dengan bijak. bukan orang kurang kerjaan yang masih sempet2nya ngomentarin oranglain. apapun yang dilakuin si-orang-yang-baru-datang tadi, saya kira itu bukan urusan dua cewek itu. sekalipun urusan mereka, sopan nggak sih ngetawain kayak gitu?
coba, empatinya mana? katanya berpendidikan, sekolah tinggi, gelar mentereng, tapi kok kelakukan kampung?
hemmm...memang, kampungan itu bukan soal waktu dan tempat ya, tapi masalah budaya dan mental.
yang saya benci adalah, kadang saya juga berbuat demikian.
apa yang saya lihat tadi adalah cermin diri, bahwa dilihat dari sudut manapun, kelakuan kayak gitu tuh nggak guna.
saya kira memang saya harus mulai belajar melihat apa yg dilakukan orang lain dengan bijak. mulai bisa menghargai apapun yang dia lakukan karena hei, ini hidup dia, bebas dong dia mo ngapain aja. kita sebagai penonton hanya disuruh menikmati, bukan menghakimi.
atau mending, diam, nggak usah komentar apapun, nggak usah dipikirin.
ketika seseorang memutuskan untuk berbuat sesuatu, pasti ada alesannya kan.
pada dasarnya semua orang tu baik kok. jadi, jangan repot prasangka buruk dulu deh, kali2 dia punya alesannya yg nggak kita sangka2. kayak ketika seseorang memutuskan untuk nggak memenuhi janji, mungkin dia lagi sakit keras, mobilnya rusak atau macet total dijalan. bukannya tukang ingkar janji.
misalnya lagi: waktu liat cewek deket sama cowok, yg kebetulan cowok itu inceran kita, belum tentu lho kalo cowok itu nggak suka sama kita dan lebih memilih cewek yang sekarang deket sama dia. kali2 aja tu cewek sodaranya, temen dari kecil atau pembantunya. who knows?
bener deh, prasangka itu sebagian besar emang nambah dosa, bikin capek hati.
tulisan ini nggak maksud sok suci ya, sungguh, saya pun belum sempurna. masih mencoba untuk terus lebih baik.
tapi cukuplah melihat kelakukan 2cewek di toko tadi membuat saya mampu menyadari kalo yg kayak gitu tuh nyebelin.
Kamis, 16 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar