Sabtu, 11 April 2009

Untukmu dengan kejujuran*

Aku benci ketika harus mengakui bahwa aku begitu menyayangimu. Aku benci karena kita jarang menemukan saat-saat menyenangkan seperti selayaknya.
Aku benci ketika diam-diam membanggakanmu dalam hati. Karena aku tau diujung sana kamu juga melakukan hal yang sama. Karena setiap kali bertemu, kita hanya bisa mengkritik satu sama lain. Jangankan pujian, bahkan sekedar tertawa bersama saja, entah kenapa, sulit sekali menemukan moment itu bersamamu.
Aku benci ketika tau dalam malam-malammu yang sendirian, kamu menangis untukku. Aku benci karena ketika mengetahui itu, aku semakin mencintaimu.
Aku benci ketika segala yang kulakukan aku persembahkan untukmu. Aku benci karena kadang masih saja ada yang kurang meski lelah aku melakukannya untuk hasil yang terbaik, bahkan kadang melebihi kemampuanku. Hingga aku tercabik-cabik, menangisi tulang yang kuhajar siang-malam demi sebuah senyuman darimu.
Aku benci ketika aku sakit, maka kamu adalah orang pertama yang diam-diam merasakan sakit yang sama. Aku benci karena sekali lagi, ketika aku sakit pun, kamu akan tetap menyebalkan seperti biasanya.
Aku benci ketika harus berdebat denganmu sepanjang sore. Aku benci karena kamu tidak mengerti konsep demokrasi, yaitu saat kamu juga harus menghormati pendapat orang lain. Tapi kamu paksa aku untuk melakukannya.
Aku benci ketika tau betapa kamu merindukan aku sampai meninggalkan semua pekerjaan, diam-diam pulang kerumah, hanya untuk melihatku menangis untuk yang pertama kali. Aku benci ketika tau untuk itu kamu hampir kehilangan semuanya.
Aku benci ketika harus berdendang senang ketika mendengar lantunan lagu Incognito. Benci karena ternyata aku punya selera yang sama denganmu.
Aku benci ketika tau kamu sampai hutang sana-sini, saat aku banyak maunya. Aku benci karena saat itu aku begitu tidak tau diri.
Aku benci ketika secara sepihak kamu memperlakukan aku seperti laki-laki. Aku benci karena kamu begitu percaya padaku, begitu yakin bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri.
Aku benci saat aku berbuat kesalahan baik sengaja ataupun tidak. Aku benci karena disaat begitu pun, kamu masih dengan senang hati berusaha membelaku.
Aku benci saat harus berhadapan dengan egomu yang diatas kepala. Aku benci karena diam-diam aku melihat bayanganku dalam emosimu.
Aku benci saat harus melakukan sesuatu yang pastinya wajar bagi oranglain. Aku benci karena kekhawatiranmu yang begitu besar, maka kamu dengan segala alasan akan mempersulit gerakku.
Aku benci ketika aku begitu sibuk, aku masih punya waktu untuk melayanimu. Aku benci karena aku tidak pernah bisa mengacuhkanmu seperti pada hal lain. Karena disini, akan selalu ada waktu untukmu.
Aku benci ketika tau kamu menahan sakit yang luar biasa demi aku. Aku benci karena ketika itu terjadi, kamu tidak pernah sudi membaginya denganku.

Aku benci saat harus mengakui ini semua. Benci karena harus menguras air mataku, tapi kamu tidak akan pernah melihatnya. Aku benci karena dibalik semuanya...
Aku takut kehilangan dirimu...
ayah...

Tidak ada komentar: